Sabtu, 04 Oktober 2014

Mengapa aku bangga menjadi seorang sales ala mas Dwi Setiawan

Sales mungkin bagi sebagian orang merupakan sebuah profesi yang tidak menjajikan. Dan kata saleman selalu identik dengan sekelompok laki-laki memakai dasi berjalan membawa tas dan menawarkan barang dagangannya ke semua orang yang dia temui.
Yah menjadi seorang sales memang memerlukan mental seorang petarung. Maka bagi sebagian sales, mental petarung ini biasanya akan membentuk mereka menjadi seorang pengusaha, bagi mereka yang berani mengambil resiko.

Briefing Pagi cara mas dwi setiawan

Meeting atau bahasa Indonesianya pertemuan.
Mungkin bagai sebagian orang hal ini adalah sesuatu yang menjemukan. Pun juga bagi saya. Hampir setiap hari saya harus melakukan briefing kepada leader di jajaran tim Sales. Tugas utama saya adalah memotivasi tim penjualan mengingat tantangan bisnis perusahaan semakin ketat. Apalagi saat ini kompetitor kami dilapangan sebagian besar adalah mantan tim managemen yang keluar kemudian mendirikan perusahaan baru. Jadi mereka yaitu para kompetitor kami mengetahui kondisi internal kami. Sehingga market-market yang tadinya merupakan lumbung sales perusahaan kami menjadi incaran mereka. Dan talenta sales di perusahaan kami akan senantiasa di incar para kompetitor kami.
Selama brifing materi yang saya sampaikan biasanya terkait salesmanhip dan kisah sukses para sales handal. Dan saya tinggal cari internet yang banyak bertebaran.

Kamis, 02 Oktober 2014

Namaku Dwi Setiawan




Terlahir di wonosobo, sebuah kota di jawa tengah yang dingin saya telah mengembara berbagai kota-kota di Indonesia. Kecil sampai dengan SMA saya menghabiskan waktu saya di kecamatan Kalikajar. Sebuah kecamatan kecil di bagian dari kabupaten wonosobo.
Wonosobo memang kota yang terkenal sangat indah. Saya bangga menjadi orang wonosobo. Menjelang SMA, saya ikut mencoba peruntungan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri. Orang tua pun mendorong saya untuk memilih ke jurusan tehnik atau mendorong saya untuk menjadi seorang insinyur. Sehingga saya mendaftar ke sebuah perguruan tinggi negeri di surakarta yaitu Universitas Sebelas Maret. Saya memilih tekhnik karena saat itu saya memiliki seorang paman yang sangat sa kagumi. Beliau bekerja di sebuah perusahaan minyak di Luar Negeri dan ketika saya kecil tahun 90an, mobil merupakan sebuah barang mewah, beliau telah memiliki mobil saat itu. Sedangkan alasan memilih saya jurusan technik kimia karena saya merasa jago pelajaran kimia dan menganggap bahwa pelajaran kimia adalah pelajaran yang keren. Walaupun akhirnya setelah saya kuliah, saya baru sadar bahwa ternyata pelajaran kimia adalah pelajaran yang sangat susah dan saya kurang begitu menyukainya. Dengan susah payah dan penuh perjuangan akhirnya saya bisa lulus walaupun standart IPK secukupnya.
Kuliah merupakan satu periode yang tersulit dalam hidup saya .. hehehehe...
Terjun di dunia pemasaran bukan cita-cita saya. Sebab, sejak kecil, Sales Manager PT ASTON GRAPHINDO INDONESIA ini pengen banget menjadi bintang film. Tapi sayang, tidak tahu cara mengikuti casting film.
Akhirnya, Saya pun terpaksa merantau ke Jakarta. Dan berbagai posisi perusahaan pernah dimasukinya. Mulai dari Farmasi, Enginering sampai dengan Otomotif dengan posisi sebagai seorang salesman.
Saya  makin lama makin mantap menggeluti bidang sales dan marketing. Yang tadi terpaksa akhirnya menjadi ketagihan.
Singkat cerita, Saya pun belajar tentang seluk-beluk tentang dunia sales. Perusahaan pertama tempat saya bergabung adalah Asco Isuzu Kalimalang bekasi. Hanya sebentar diperusahaan tersebut saya pindah menjadi seorang medical representative di Pharos cabang Bandung.
Dan saya menghabiskan waktu lama bekerja menjadi sales excecutive di Auto 2000 berpindah-pindah mulai dari Auto 2000 kalimalang, Cempaka Putih dan terakhir Pluit. 

Sempat banting stir menjadi pengusaha Lap top second di kota Solo. Ternyata dunia bisnis belum memberikan keberuntangan bagi saya. Akhirnya saya kembali menjadi seorang karyawan, yaitu bekerja sebagai sales enginer di sebuah perusahaan water treatmen. Saat menjadi sales enginer saya telah berhasil melakukan closing dan dealing dengan beberapa perusahaan besar dan nilai milyaran.
Setelah saya mulai menyadari banyak hal yang tidak sesuai ketika saya harus bekerja didunia proyek pemerintahan, akhirnya saya bergabung dengan sebuah perusahaan manufaktur yang dikelola secara Islami, mulai dari posisi salesman, supervisor dan saat ini saya menjadi seorang Sales Manager.